Sahabat Inspirator: Saiful Arifin

Sahabat Inspirator: Saiful Arifin

Saiful Arifin, sosok pengusaha muda asal Pati, Jawa Tengah, yang pernah berjualan telepon seluler di kawasan Blok M, Jakarta, dengan sistem tukar tambah dan jual-beli handphone. Lapak yang ia miliki saat itu cukup kecil, hanya berukuran 1×3 meter, dan modal usahanya pun sedikit.

Namun berbagai keterbatasan itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus mencoba hal-hal baru sembari mencari peluang usaha yang lebih besar. Dengan filosofi mengikuti kemana pun air mengalir, pria alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Pati ini mampu membuka lowongan kerja hingga 1.000 orang di berbagai perusahaan miliknya.

“Saya akui, ada faktor keterpasaan juga saat memutuskan menjadi pedagang handphone di Blok M. Saya memaksakan diri jadi pedagang karena tidak mau pulang ke kampung tanpa hasil apa-apa. Saya juga tidak betah kerja di pabrik, hanya satu bulan lalu keluar,” tuturnya saat diwawancarai pada Senin (17/5) sore.

The right man on the right place, lanjut Saiful, artinya saat kita memilih bisnis harus sesuai dengan waktu dan kondisi yang tepat.

“Sebelum membuka counter handphone, saya bekerja dahulu sebagai sales selama dua tahun sehingga dapat meguasai (memahami) pasar (pelanggan) di Pasaraya Blok-M, Jakarta Selatan. Lalu ada peluang usaha dan saya memanfaatkan peluang itu,” tuturnya.

Menurut pria yang banyak belajar dari pengalaman hidupnya ini, bisnis yang memiliki prospek dan kebutuhan pasar dalam jangka panjang lebih diminati daripada bisnis yang prospeknya jangka pendek (musiman) berdasarkan hobi sesaat, meskipun labanya sedikit.

“Guru saya sadalah pengalaman hidup saya, termasuk saat menimba ilmu di Universitas Moestopo Beragama. Jangan hanya belajar sesuai text book (buku teks) karena pendidikan yang paling penting itu ada di lapangan,” jelasnya.

Seorang pebisnis handal, lanjutnya, harus mampu menguasai seluk-beluk bisnis dari hulu hingga hilir, termasuk minat pasar, industri, dan proses produksi barangdan jasa yang hendak dijual.

“Seorang pebisnis harus komitmen dan fokus terhadap usahanya, sering lihat kanan-kiri (lingkungan), melakukan kontrol (pengawasan) terhadap usaha, dan banyak mempelajari hal-hal baru dalam berbisnis,” jelas Saiful.

Hal penting lainnya, imbuhnya, ialah pengusaha harus bisa menjaga kepercayaan orang lain, terutama kepercayaan pasar. “Jangan sampai rugi tidak dipercaya orang lain. Kalau rugi materi dalam bisnis itu biasa saja, ucapnya.

Pengusaha, paparnya, juga harus memiliki tim yang solid dan kompak dalam menjalankan usaha. Kuncinya adalah bagaimana membuat orang lain nyaman bekerja dengan lingkungan yang mendukunga dan target kinerja yang dapat tercapai dengan baik (masuk akal). Hal ini terkait erat dengan sumber daya manusia (sdm) yang menjadi usur tim kita.

“Biasanya, saya memberikan sejumlah kewenangan kepada pimpinan-pimpinan unit di perusahaan dengan. Saya tidak bisa menjadi superman atau one man show, tapi kita mampu membuat super team yang solid,” ujarnya.

Saiful juga mengakui spirit bisnis yang dilakukan oleh seniornya di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Sandiaga Uno, dengan semngat kerja keras, kerja tuntas, dan kerja ikhlash. “Ketiganya penting sekali bagi seorang pebisnis,” jelasnya.

Bagi para pengusaha pemua (start up), lanjutnya, harus merasa senang dengan bisnis itu dan menjadikannya sebagai hobi dan kebiasaan. Jangan sekedar ikut-ikutan orang lain dan anggaplah bisnis sebagai hiburan sekaligus kebutuhan. “Cari passion (minat) kita dalam berbisnis. Kuncinya, ialah bekerja, berpikir, dan berusaha maksimal,” ungkapnya.

Saiful pun mengaku bersyukur kepada Allah SWT karena hingga hari ini bisninya belum pernah mengalami kegagalan hinnga perusahaannya diutup. “Alhamdulilah, hingga kini belum mengalami kegagalan. Kalau bisa perusahaan jangan sampai tutup,” paparnya.

Membangun bisnis, paparnya, tidak ada yang instant langsung menjadi perusahaan besar. Semuanya harus dibangun dari awal. “Dalam berbisnis, kita harus mengukur kapasitas diri, tapi jangan terlalu takut juga. Jadi, ada keberanian tapi terukur, jangan ngawur,” jelasnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

Leave a Reply

Skills

Posted on

May 18, 2016