Dakwah Profesional Meningkatkan Kemakmuran Umat

Dakwah Profesional Meningkatkan Kemakmuran Umat

Oleh: Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia menjadi pusat perhatian. Dinamika dan perkembangan Islam di negeri ini dinilai sangat unik dan berbeda dengan di negara-negara lain, termasuk di Timur Tengah. Islam Indonesia identik dengan keramahan, toleransi dan penghargaan terhadap nilai-nilai pluralisme dan Hak Asasi Manusia.

Kemajuan lain–dan ini kerap menjadi rujukan banyak pihak di luar negeri–Islam Indonesia dalam pentas perpolitikan dan demokrasi menunjukkan kompatibel, dapat bersanding dan bersemai secara bersama-sama. Nilai-nilai Islam dan demokrasi terbukti saling mengisi. Kenyataan ini sekaligus menepis anggapan bahwa Islam tidak kompatibel dengan demokrasi, yang dilontarkan beberapa kalangan dan pihak, beberapa tahun silam.

Meski tak dipunkiri juga, ada sisi lain yang juga terkadang membuat nama Indonesia tercoreng. Kasus maraknya aksi teror dan gerakan radikalisme beberapa tahun terakhir, memaksa citra Islam Indonesia ikut jelek. Untungnya, hal itu dapat cepat diatasi pemerintah dan masyarakat dengan baik, sehingga perlahan namun pasti citra Islam pun membaik.

Sementara itu, di sisi lain kekuatan populasi saja sebagai muslim terbesar di dunia (kurang lebih 210 juta jiwa dari total penduduk Indonesia yang 250 juta), saya rasa tidaklah cukup dan berarti jika pada faktanya umat Islam di negeri ini mayoritas hidup di bawah garis kemiskinan. Kita tahu, angka kemiskinan di Indonesia sangat tinggi, yakni sekitar 11,4% atau berkisar 30 juta orang, dan rentan miskin sekitar 10,5% atau kurang lebih 28 juta jiwa (Bridging The Gap, Wijayanto Samirin: Gramedia 2014).

Jika dirujuk kepada umat Islam berdasar kelas ekonomi, maka mayoritas umat muslim di negeri ini berkelas ekonomi menengah ke bawah. Tak heran jika Pak JK kerap menyitir, kita ini masih sangat miskin orang kaya. Jika di Turki ada 100 orang kaya, maka 95 orang diantaranya adalah muslim. Di sini kebalikannya, 95 non muslim, hanya 5 orang saja yang muslim.

Karena itu, salah satu tantangan membuat dakwah Islam bisa maju dan membawa umatnya sejahtera tak ada jalan lain kecuali meningkatkan taraf hidup mereka. Dengan cara apa? Yang paling tepat dengan gerakan intrepreneurship di kalangan umat Islam. Ini penting mengingat kesadaran umat Islam dalam bidang bisnis, kewirausahaan, dan perdagangan masih rendah.

Kemandirian tak dapat diraih dengan cara menjadi pegawai atau berharap menjadi aparat pemerintah (Pegawai Negeri Sipil/PNS). Mentalitas dan mind set umat harus dirombak dan dirubah bahwa untuk mencapai kemandirian dibutuhkan kerja keras. Tak ada kejayaan dan kesuksesan tanpa kerja keras. Ini juga salah satu pesan inti dalam Islam.

Al-Quran tegas menyitir bahwa, “Allah tidak mungkin (akan) mengubah nasib suatu kelompok tanpa kelompok/golongan itu sendiri merubahnya.” Bagaimana cara merubah? Tentu dengan kerja keras. Orang menganggur tak hanya menjadi beban bagi dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat banyak, tapi juga merusak citra negara.

Pak JK menyadari semua problematika umat, sebagaimana diketengahkan dalam buku ini. Karena itulah, saya melihat cara Pak JK memberikan kontribusi dalam rangka mengangkat derajat dan martabat Islam dan umatnya dengan cara-cara yang tidak dilakukan oleh kebanyakan umat Islam. Dakwah JK dengan menekankan pendekatan fungsional dan perbuatan nyata melalui berbagai program massal, baik dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum DMI maupun Ketua PMI, menunjukkan betapa umat ini membutuhkan lebih banyak lagi pembenahan agar meningkat derajat hidupnya.

Dakwah JK tak hanya bernuansa agama, tapi juga kemanusiaan. Bagi saya, memang sudah seharusnya pandangan seperti ini yang dikembangkan, bahwa dakwah tak melulu kita berceramah tentang peningkatan beragama, tapi juga tak kalah penting adalah bagaimana melakukan perubahan di masyarakat terkait pendidikan, perekonomian, sosial, kesehatan, dan lain sebagainya.

Ini semua coba dilakukan oleh Pak JK dengan terus memberikan khidmahnya kepada umat secara professional. Bahkan managemen atau tata kelola wakil presiden tersebut mirip menerapkan prinsip dan konsep managerial modern yang lazim diterapkan di perusahaan-perusahaan saat ini.

Dengan pola managemen seperti itu, memungkinkan apa yang dilakukan oleh Pak JK dalam memakmurkan Islam dan umatnya dapat lebih maksimal dan efektif. Kalau rumus dagang, keluar sedikit, mendapat (pemasukan) banyak. Pak JK memilih sedikit rapat, banyak bekerja. Itulah dakwah efektif yang kini tengah dilakukan oleh Pak JK.

*Dr Sofyan Djalil, Menteri PPN/Kepala Bappenas/Ketua PP DMI Bidang Kominfo, Kerjasama Antar Lembaga dan Hubungan Luar Legeri. Sumber tulisan: Pengantar buku “Dakwah Intrepreneurship Ala JK” karya Hery Sucipto (Grafindo Media Books, 2016).

Skills

Posted on

May 18, 2016

Leave a Reply