Sahabat Inspirator: Iskandarsyah Rama Datau

Sahabat Inspirator: Iskandarsyah Rama Datau

Iskandarsyah Rama Datau, seorang pengusaha muda asal Jakarta yang juga Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jakarta Raya, memandang pentingnya jaringan bagi seorang pengusaha, khususnya pengusaha pemula (start-up). Hal ini berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai pengusaha di bidang media.

“Meskipun memiliki modal besar (banyak uang), tetapi bingung mau digunakan untuk usaha apa modal itu, maka percuma saja. Teman-teman gue banyak yang seperti itu. Inilah pentingnya networking sehingga kita tahu mau bisnis apa,” ungkap Ramadhan saat diwawancarai pada Rabu (11/5) siang di Jakarta.

Kalau ada teori bahwa background (latar belakang) pengusaha itu selalu by nasab atau karena keturunan, dan by nasib atau karena kerja keras dan takdir, maka Ramadhan Datau lebih merasa in between atau di tengah-tengah kedua teori itu.

“Latar belakang kedua orang tua saya adalah pengusaha, tetapi usaha yang saya geluti saat ini tidak ada hubunganya dengan usaha keluarga. Namun, saya bisa kenal banyak orang dan menawarkan (menjual) usaha saya kepada orang lain karena mengenal rekan-rekan dan kolega bisnis keluarga,” jelasnya.

Saat memulai usahanya, Rama mengaku bergerak di bidang trading (perdagangan), yakni menjual dan memasok (supply) barang hasil produksi orang lain. “Kegiatan ini simple (sederhana) saja sebenarnya,” ujarnya.

Menurutnya, usaha trading bukanlah tipe bisnis jangka panjang karena kita hanya menjual barang produksi orang lain. Apalagi margin–nya (penghasilan) hanya dapat setengah saja. Apalagi barang-barang produksi China sekarang sudah tidak bisa lagi kita trading karena kelebihan pasokan (over supply).

“Akibat over suplly produk-produk dari China, harganya menjadi sangat murah dan marginnya tidak ada untuk importir. China juga bisa menjual langsung produksinya ke Indonesia tanpa melalui pengusaha trading,” jelas Rama.

Terkait kiat-kiat memulai usaha, Rama menyatakan para pengusaha pemula (start-up) harus tahu benar usaha apa yang disukai. Jenis usahanya juga harus sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan mereka.

Para start-up, paparnya, harus pintar melihat situasi, mencari peluang yang ada, serta menggunakan kreatifitas dalam berusaha. Salah satu cara paling mudah unuk memulai usaha adalah trading. Kemudian, gunakan hasil (laba) dari usaha trading itu untuk membuat produk kita sendiri secara kreatif.

“Kreatif itu bukan berarti selalu menciptakan yang pertama, tetapi bisa juga modifikasi dari produk itu. Kita lihat saja orang sukses seperti Marck Zuckenberg, pendiri Facebook,” ujarnya.

Sebelum ada facebook, lanjutnya, terlebih dahulu ada Friendster. Facebook merupakan hasil modifikasi yang lebih baik dari friendster. Inilah hasil kreatifitas yang diperlukan untuk menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),” tuturnya..

Rama juga berbagi pengalaman dengan para start-up untuk meraih kesuksesan dalam menjalankan usaha, yakni harus sabar untuk menikmati hasil usahanya secara berlebihan. Idealnya, keuntungan yang diperoleh kita sisihkan sebagian untuk mengembangkan usaha di masa depan.

“Kalau dapat untung dari hasil usaha, jangan semuanya kita spending (habiskan) untuk gaya-gayaan, dan pesta pora (berfoya-foya). Akibatnya, uang habis dan tidak ada modal unuk mengembangkan usaha. Kita harus sabar untuk senang, untuk menikmati hasil usaha,” ungkapnya.

Ia juga menceritakan pengalamannya saat mendapatkan keuntungan besar dari hasil keringat sendiri, tepatnya saat berbisnis di bidang trading dengan laba puluhan miliar rupiah. Saat itu, Ramadhan masih berumur 26 tahun dan merasakan euforia luar biasa dengan kondisi itu.

“Waktu itu saya masih muda, umur 26 tahun, dan lagi musim kompetisi sepak bola dunia (world cup) di Spanyol. Jadi, saya dan teman-teman pergi ke Spanyol dengan keuntungan dari bisnis trading itu,” paparnya.

Waktu itu, lanjutnya, laba perusahaan juga kami habiskan untuk gaya-gayaan, party-party, seperti beli mobil  dan pakaian mewah sampai habis sehingga tidak ada sisa laba untuk mengembangkan usaha. “Maklum, darah muda,” ujarnya.

Rama pun merasa menyesal dengan perilakunya itu dahulu , bahkan merasa gagal karena tidak memanfaatkan modal secara maksimal untuk mengembangkan usahanya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

Skills

Posted on

May 19, 2016

Leave a Reply