Sahabat Inspirator: Sandiaga Salahudin Uno

Sahabat Inspirator: Sandiaga Salahudin Uno

Sandiaga Salahudin Uno, seorang pengusaha muda asal Gorontalo yang menjadi orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia menurut majalah Forbes pada tahun 2009. Sedangkan pada tahun 2011, ia menjadi orang terkaya ke 37 versi majalah Forbes.

Menurutnya, wirausaha itu pola pikir (mind-set), bukan profesi. Semua orang dengan profesi apa pun bisa menjadi wirausaha jika memiliki pola pikir untuk menciptakan nilai tambah dan mencari solusi untuk menyelesaikan masalah serta tahan banting dalam berbagai situasi.

Sandiaga mengalami titik balik dalam hidupnya sejak 2015, saat memutuskan untuk berkontribusi lebih aktif bagi masyarakat melalui dunia politik. Konsekuensinya, ia harus mundur dari sejumlah posisi strategis di perusahaannya.

“Di dunia usaha, kita memang bisa memberikan dampak positif kepada orang-orang di sekitar kita, terutama karyawan perusahaan. Tapi, manfaat keberadaan pengusaha masih sangat kurang dirasakan oleh publik,” paparnya.

Sandiaga berharap dengan terjun langsung ke publik melalui jalur politik, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh 50 ribu karyawan yang bekerja di perusahaannya, tetapi juga dirasakan oleh 57 juta pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah (umkm) di seluruh Indonesia.

“Inilah titik balik saya untuk lebih berkontribusi, serta memberikann nilai lebih dan manfaat kepada masyarakat. Konsekuensinya, memang harus pilih salah satu. Tinggalkan dulu perusahaan dan totalitas di bidang yang baru. Saya sedang  mencoba sesuatu yang lebih besar,” paparnya.

Apalagi ia juga pernah harus meninggalkan zona nyaman (comfort zone) karena tempatnya bekerja terkena imbas krisis moneter, dari menjadi karyawan dengan gaji 8.000 US $ menjadi masuk ke sektor publik dengan membuka usaha sendiri. “Lalu pada 2015, saya mencoba sesuatu yang lebih besar (re-inventing) sehingga harus keluar dulu dari perusahaan,” jelasnya.

Selama menjadi pengusaha hampir 20 tahun, sebagai elemen penggerak ekonomi, Sandiaga merasa dampak pengusaha kepada masyarakat masih sangat kurang. “Pengusaha belum menjadi ekosistem sosial masyarakat dan masih dipandang sebagai bagian daripada rente. Mindset ini tentu harus diubah, terutama oleh pengsaha mikro,” paparnya.

“Kalau dapat amanah di DKI Jakarta, saya akan berupaya menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif dan mengembangkan kegiatan kewirausahaan. Selama ini, pelaku UMKM tidak diberdayakan oleh pemerintah, bahkan terkesan menjadi obyek penderita,” jelasnya.

Semua pihak, lanjutnya, punya pekerjaan rumah yang sangat besar untuk membangun fondasi dan tulang punggung kewirausahaan masyarakat. Formulanya adalah dengan menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya.

“Saat ini, kondisi lapangan kerja di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Pengangguran menjadi isu nasional karena tidak ada lapanga pekerjaan formal buat mereka. Akibatnya, harus menjadi pengusaha secara terpaksa,” ujarnya.

Padahal, imbuhnya, Indonesia adalah negeri yang subur. Namun yang terjadi adalah paradoks, negeri yang subur dengan harga bahan pangan yang sangat mahal. Salah satu penyebabnya adalah kesalahan sistem fundamental di dunia pendidikan.

“Seharusya, kampus atau perguruan tinggi menjadi bagian dari solusi untuk menyelesaikan masalah, bukan justru menjadi inti permasalahan. Ini terjadi karena ada sistem fundamental yang perlu diubah di dalam kampus atau perguruan tinggi,” jelasnya.

Menurutnya, kampus bukan hanya tempat untuk mendapatkan ilmu, tetai juga networking (jaringan) dan kesempatan kerja. Dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), secara riil harus ditingkatkan program tukar-menukar pelajar dalam jumlah besar di ASEAN.

Misalnya, kita lakukan pertukaran pelajar sebanyak 1.000 orang di Thailand, 1.000 orang di Myanmar dan 1.000 orang di Filipina. Setelah selesai, mereka kita bina untuk menjadi bagian dari solusi untuk menghadapi era MEA. “Jangan sekedar bicara dengan bahasa besar (makro) seperti unggul di bidang pendidikan dan kebudayaan di era MEA ini,” ungkapnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

Skills

Posted on

May 20, 2016

Leave a Reply