Sahabat Inspirator: Raja Sapta Oktohari

Sahabat Inspirator: Raja Sapta Oktohari

“Indonesia harus jadi negara pemenang !,” tegas Raja Sapta Oktohari pada Senin (16/5), seorang pengusaha muda di bidang properti sekaligus promotor tinju kelas dunia termuda menurut World Boxing Association (WBA).

Sebagai negara pemenang, inggredients (materi) utamanya adalah manusia Indonesia yang harus hadir di semua lini, baik di jalur politik, organisasi kemasyarakatan, maupun ekonomi.

“Kalau infrastruktur (unsur-unsur) negara pemenang bebas saja, yang penting apa tujuan kita sebagai warga negara pemenang. Misalnya, HIPMI bertekad mewujudkan pengusaha pejuang dan pejuang pengusaha,” ungkapnya.

Menurutnya, seorang pejuang yang tidak memiliki jiwa pengusaha tidak bisa disebut pejuang. Sebaliknya, seorang pengusaha yang tidak memiliki jiwa pejuang tidak dapat disebut sebagai pengusaha. “Program revolusi mental pemerintah harus diarahkan untuk membentuk pengusaha pejuang dan pejuang pengusaha,” paparnya.

Raja Sapta Oktohari menilai mayoritas masyarakat Indonesia sekarang banyak yang masuk ke zona nyaman (comfort zone). Padahal, zona nyaman ini bagaikan buaian bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak. “Zona nyaman membuat kita lupa potensi diri untuk berkompetisi,” ucapnya. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, paparnya, Indonesia sepatutnya memainkan peran dominan di semua sektor kehidupan, termasuk di sektor olahraga.

Bangsa Indonesia juga harus masuk dalam kancah internasional dan menjadi pemain penting di pasar global. “Pemerintah jangan sekedar beretorika karena terlalu sering berretorika hanya membuai kita,” tegasnya.

Pemerintah juga harus membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa pemenang. Namun, apa yang harus dilakukan setelah menjadi bangsa pemenang? “Sebagai bangsa pemenang, diperlukan tanggung jawab moral, jangan monoton (diam) seperti robot yang tak bergerak,” jelasnya.

Misalnya, jelas RSO, kalau menggunakan parameter prestasi, dapat dilihat apakah manusia Indonesia itu sehat fisik dan jiwanya? Apakah negara itu mendukung pengembangan olahraga dan ekonomi olah raga? Lalu, bagaimana mindset pemerintah dan rakyatnya terhadap dunia usaha? Itu semua bisa menjadi parameter negara pemenang.

RSO juga tidak setuju kalau membandingkan Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya yang jelas lebih kecil georafis dan jumlah penduduknya daripada Indonesia. “Sulit membandingkan  negara-negara ASEAN yang lebih kecil dengan Indonesia.

Misalnya, Brunei hanya memiliki 400-500 ribu populasi, sedangkan di Indonesia ada 250 juta penduduk. Tentu agak sulit membandingkan dua negara ini, termasuk Singapura dan Malaysia. “Tapi, bukan berarti kondisi ini membuat kita lengah sebagai bangsa,” tuturnya.

“Negara harus fokus terhadap apa yang dikerjakan, dengan membangun berbagai potensi kekuatan yang ada saat ini. Pembangunan itu seperti teori orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengubah satu nilai menjadi nilai tambah,” imbuhnya.

Raja juga menilai Indonesia sebagai sebua negara besar yang memiliki potensi sumber daya alam (sda) dan sumber daya manusia (sdm) sangat besar. Salah satu cara paling ampuh untuk menjadi negara besar adalahmembangu sdm yang berkualitas melalui olahraga.

“Mental enterpreneur manusia Indonesia harus dibangun dalam berbagai bidang sehingga daya saing bangsa dengan sendirinya akan meningkat. Sedangkan keuntungan merupakan mental para pemenang,” imbuhnya.

Adapun semboyan Sport is the spirit of the nation atau olahraga adalah semangat dari suatu bangsa, tambahnya, dapat mengubah mind set (pola pikir) bangsa Indonesia ke arah mental pemenang karena semangat sportivitas dan fair play(keadilan dan kejujuran) yang kental.

Fokus pembangunan di bidang olahraga, tuturnya, juga dapat mengubah pola pikir bangsa secara ekstrim karena efek heroismenya. “Meskipun harus diakui bangsa Indonesia sekarang cenderung apatis dan rendah animonya terhadap dunia olah raga di tanah air,” ujar Raja Sapta Oktohari

Olahraga juga memiliki nilai-nilai men sana in corporeo sano yaang berarti di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang kuat. Mengapa? Karena jiwa yang sehat cenderung mewujudkan bangsa yang lebih produktif, kompetitif, dan pemenang.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

Skills

Posted on

May 20, 2016

Leave a Reply